Wednesday, November 27, 2013

Kecemasan tidak selalu negatif

0 comments
Ada dua hasil yang kita dapatkan saat kita berada didepan penonton, dilupakan atau diolok-olok namun memberi kesan. Keputusan hasil tergantung dari keputusan kita menjadi seperti apa. Berada didepan orang-orang lain memang salah satu uji diri. Dan hal tersebut merupakan kesempatan. Kesempatan seperti hujan , mereka ada dimana-mana , tergantung persepsi kita , kita ambil atau biarkan kesempatan tersebut . Dan jelas, kesempatan tidak akan datang dalam keadaan yang sama untuk waktu yang berbeda. Berada didepan audience, berbicara didepan, memasarkan diri didepan orang banyak adalah kesempatan-kesempatan yang berada disekitar kita namun tidak semua orang ingin menjadi orang didepan , itulah persepsi, tidak ada yang benar ataupun salah. Menjadi orang didepan merupakan pilihan , kita ambil atau tidak , itu semua keputusan. Biasanya keputusan yang akan kita ambil dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran terhadap suatu hal. Takut, malu , kurang percaya diri , yang menjadi ketakutan kita, yang menjadi hal yang kita tidak ingin rasakan akan timbul saat kita menjadi presentator didepan.
Maka dari itu , dibagian ini kita akan membicarakan tentang bagaimana memasarkan diri , bagaimana menjadi presentator yang menuruti syarat-syarat. Ada beberapa tips yang kita bisa terapkan sebelum melakukan presentasi. Berikut adalah tips-tips nya :
1.       Atur Napas
Sebelum masuk ke panggung atau ruangan presentasi, tenangkan diri dengan mengatur napas. Tarik napas dan hembuskan perlahan, akan membuat diri kita tenang dan berikan beberapa motivasi pada diri kita agar lebih semangat.
2.       Berusaha wajar
Saat kita didepan, mata penonton akan menjadi target utama mereka, segala tingkah yang kita lakukan didepan akan menjadi komentar dari mereka. Jadi usahakan bersikap wajar, kita sudah menenangkan diri sebelumnya , jadi dengan ketenangan itu pula , mengkontrol diri untuk membatasi sikap-sikap yang tidak diperlukan sangat diperlukan didepan. Sikap yang tenang juga akan membantu kita dalam performa presentasi.
3.       Hindari membuat jarak dari penonton
Kita presentasi pasti ingin memberikan informasi kepada penonton dan pendengar, maka dari itu usahakan untuk membuat penonton adalah bagian dari apa yang kita lakukan , ajak mereka berpartisipasi agar info yang kita berikan bisa dapat ditanggapi.
4.       Senyum
Emosi bisa saja menjadi penghalang , namun saat didepan apapun yang kita rasakan , bukan menjadi alasan untuk tidak memberikan performa yang baik bagi penonton . Apapun yang menimpa kita , usahakan tersenyum . Dengan tersenyum , akan memberi respon positif bagi diri kita sendiri maupun yang melihat kita .
5.       Berdiri tegak
Orang akan memperhatikan didepan jika didepannya memiliki sikap sopan santun. Ketika didepan , sikap sopan dan rapi sangat diperlukan. Jika kita malah bermain-main , tidak serius dalam sikap presentasi maka penonton juga tidak akan punya keinginan untuk memperhatikan. Jadi sikap siap dan berdiri dengan semangat akan menopang performa kita.
6.       Tatap mata penonton
Penonton juga elemen dari presentasi kita , mereka bagian dari apa yang kita lakukan, mereka yang menerima apa yang kita berikan. Jadi berikan tatapan langsung ke mereka , dengan begitu informasi akan terjalin.
7.       Sadari menjadi pusat perhatian
Terakhir , bersikaplah menjadi orang yang memang didepan, fokus bahwa fokus ada pada kita. Tanggung jawab untuk memberikan informasi yang tepat dan baik harus kita resapi serta berikan sikap yang baik.


Hal hal diataslah yang akan menjadikan kita presentator yang bisa memberikan info yang baik. Ketika kita berbicara didepan dengan tidak sengaja akan menginspirasi orang yang mendengar kita. Ingat kecemasan tidak selalu negatif , kita bisa melatihnya menjadi hal yang positif dengan berpikir positif terhadap kecemasan itu sendiri.

Dream to Responsibility

0 comments
Berikan ruangan untuk pojok pemikiran ini, berikan pemikiran itu intensitas fokus yang cukup untuk hening dan diam. Akan masuk sebuah perintah untuk kita mencari jawaban “Apakah mimpimu ?” . Jawaban yang kita cari tak akan jauh , karena mimpi adalah apa yang menjadi motivasi bagi kita sendiri, yang ingin kita genggam dengan tangan kita sendiri, yang ingin kita buktikan untuk semua orang. Mimpi adalah tujuan , mimpi adalah titik-titik pencapaian untuk kita dengan suatu niat yang kuat. Mimpi bisa dmulai dengan angan-angan , mimpi juga membutuhkan pondasi untuk terus menopang  menuju ketercapaiannya. Kita bermimpi karena dari suatu keinginan , bisa dari faktor banyak hal . Dari segala apa yang kita alami juga akan mempengaruhi mimpi yang kita ingin capai.  Sebenarnya , apa tujuan impian ? Ayo kita diskusi bersama .
Sebelum kita bermimpi, ada pendorong kecil dari dasar untuk melakukan atau pun bertindak yang menjadi modal kita untuk bermimpi. Mimpi adalah nilai yang besar untuk kita sendiri. Tentu nilai besar itu akan menjadi suatu tanggung jawab , yang secara tidak sadar kita ambil dan kita jalani. Kita berimpi untuk sebuah tujuan , dan alasan untuk melakukan segala sesuatu adalah karena kita mempunyai tujuan yang kita anggap penting , yang kita rasa bahwa hal tersebut adalah jalan yang harus kita raih. Dari segala latar belakang yang menjadikan mimpi tersebut terbentuk , ada hal yang akan menjadi media untuk pencapaian dari mimpi tersebut , yaitu tanggungjawab. Tanggungjawab adalah jawaban dari rasa syukur kepada nikmat yang diberikan, nilai yang kita genggam untuk diwujudkan. Saat kita memegang teguh suatu tanggungjawab, maka yang lainnya akan terbentuk dari kita. Fokus , niat , keikhlasan, motivasi dan lain-lain akan menjadi hadiah dari tanggung jawab itu sendiri. Bayangkan untuk kita sendiri, jika kita bertanggung jawab atas  diri kita , bahwa kita bermimpi untuk menjadikan diri menjadi lebih baik , menjadi yang bisa dibanggakan dan dapat diandalkan, maka akan muncul motivasi untuk mencapai hal-hal tersebut. Motivasi-motivasi yang bersatu menjadi tanggung jawab yang harus kita jaga dan kita laksanakan. Jadi tanggung jawab itu seperti amanah , amanah untuk kita sendiri . Jadikan kita manusia yang bertanggung jawab , yang memantaskan dirinya untuk menjadi sebuah pribadi yang bermanfaat bagi orang lain.
Segala pemberian dari Yang Kuasa tidak akan pernah kita bisa atur dan kita judge bahwa karunia itu baik atau buruk untuk kita. Yang kita dapatkan itulah yang terbaik, yang terpenting adalah kita yang harusnya melakukan/memberikan yang lebih baik. Dengan menjadikan diri kita sebagai pribadi yang bertanggung jawab, setidaknya untuk diri kita sendiri, niscaya bahwa mimpi , harapan , keinginan yang tinggi sekalipun , akan menjadi cahaya di ujung lorong gelap.

Pada akhirnya tanggung jawab akan memantaskan diri kita , mengarahkan kita menjadi pribadi dengan tujuan yang bermanfaat. 

Tuesday, November 26, 2013

0 comments
            Ilmu dan teknologi adalah instrument yang penting untuk membangun orang-orang yang beradab. Dengan ilmu yang dimiliki, Allah akan mengangkat derajat seorang muslim. Ilmu dan tingkat kecerdasan manusia juga akan sangat menentukan tingkat ekonomi seseorang.Ilmu dan iman adalah ibarat saudara kembar, tidak bisa dipisahkan sehingga dimanapun dilakukan penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi maka iman harus senantiasa mengikuti. Terlebih lagi agama diturunkan tidak hanya untuk urusan akherat belaka, tetapi juga untuk mengatur urusan manusia di dunia guna meraih akherat.Hal ini dibuktikan dengan banyak terjadi perubahan besar berupa pencapaian luar biasa di bidang sains dan teknologi sejak kedatangan Islam. Islam telah mendorong geliat tradisi keilmuan di kalangan kaum muslim. Mereka menyerap ilmu pengetahuan dari beragam sumber. Islam telah mendorong kaum muslim untuk memperdalam urusan dunianya dengan nash yang jelas sebagaimana hadits Rasulullah SAW tentang “antum a’lamu bi umuriddunya kum” (kamu lebih mengetahui urusan duniamu). Dalam hadits lain, Rasulullah SAW juga sangat mendorong penguasaan ilmu pengetahuan sampai ke negeri China, bahkan tawanan perang Badar diberi kebebasan jika mampu mengajarkan membaca kepada sepuluh orang kaum muslimin. Dampaknya adalah kemajuan dan kebangkitan penyebaran Islam telah mendorong pula kemajuan dalam bidang sains dan teknologi bagi umat manusia.
                   Kerinduan pada suasana kejayaan dan kebangkitan sains dan teknologi di era kejayaan peradaban Islam tersebut telah memberikan dorongan kepada Jakarta Islamic Centre untuk mengkreasikan seminar peradaban Islam dengan tema “Aktualisasi nilai-nilai Keimanan dalam Islam di Dunia Sains dan Teknologi. Seminar yang menghadirkan Dr. Ing Ilham Akbar Habibie, Presidium ICMI Pusat dan Prof. Dr. Ing. Fahmi Amhar selaku penulis dan trainer Technoscience Spiritual Quotient (TSQ). Seminar yang dilaksanakan di Hotel Grand Cempaka pada hari Kamis tanggal 30 Desember 2010 ini menjadi penutup tahun sekaligus penutup rangkaian kegiatan Gema Hijrah 6 – 1432 H yang digagas Jakarta Islamic Centre sebagai persembahan merefleksikan spirit hijrah menyongsong kebangkitan peradaban Islam.
           Kebangkitan peradaban Islam, khususnya di bidang sains dan teknologi adalah sebuah keniscayaan. Indonesia pun memiliki peluang untuk maju, karena potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia yang memadai. Menurut para ahli, saat ini Indonesia diduga memiliki sekitar 1,3 juta anak-anak dengan kualitas yang luar biasa (CIBI=cerdas istimewa berbakat istimewa). Jika potensi tersebut dimaksimalkan tentu akan menjadi modal awal yang penting untuk menjadikan Indonesia sebagai adidaya baru dengan mengembangkan kemajuan sains dan teknologi.
            Pendidikan menjadi kunci utama untuk mendorong kebangkitan penguasaan sains dan teknologi. Namun sangat disayangkan saat ini minat berlajar kaum muslimin pada bidang sains atau ilmu eksakta agak menurun sehingga berdampak pada ketertinggalan kaum muslimin dibandingkan dengan peradaban barat.Hanya saja untuk menuju kebangkitan tersebut, Fahmi Amhar menyatakan bahwa paling tidak ada tiga hal yang harus dilakukan yaitu, perlu dibangun sikap mental kaum muslimin sendiri yang memang menginginkan kebangkitan tersebut. Selanjutnya harus ada yang mengajak masyarakat agar memiliki energi panas yang sama untuk bangkit. Terakhir, perlu adanya upaya mengontak pihak-pihak pengambil kebijakan sehingga memperkuat arus kebangkitan tersebut.


 

First Thing First Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template